Dazzling Heart
Source: Azas_ef (twitter)
Di seberang jalan, Mafumafu setia menantikan kehadiran sosok malaikat kecilnya yang baru saja berjuang hebat setelah berperang hebat dengan kertas ulangannya dalam gedung tiga tingkat itu. Begitu jarum jam tangannya menyentuh angka 4 sore, siswa-siswi berhamburan keluar dari area "Sekolah Dasar Sorairo" dengan kegembiraan menghiasi wajah mereka.
"Ayahh!!!" Di antara lautan kecil itu, sepasang manik crimson itu menangkap figur sang 'bunga biru' kecilnya yang tergopoh-gopoh datang ke pelukannya. Kedua tangannya mengepak lebar bak membentuk sebuah sayap kecil begitu raganya tiba di dekapan sang pelindungnya.
Mafumafu segera berjongkok menyambut kehadiran sang putri. Suara tabrakan kecil tak terhindarkan pun terdengar, sampai-sampai pria itu nyaris saja oleng. Namun tragedi kecil itu segera tergantikan dengan sorakan riang sang putri, "Yah! Ternyata ulangan bahasa jepangnya tadi mudah, loh! Aku bisa nulis kanji 'nihonggo' dengan benar!"
Senyuman hangat merekah di wajah Mafumafu dengan tangan kokohnya yang mengusap lembut pucuk surai gagak bunga kecilnya, "Itu keren, ya...! Ado sudah mau berusaha, padahal kemarin masih salah-salah nulis kanji sama ayah."
"Ehh... Tapi kata bunda, itu tulisannya benar, kok!"
"Iya, tuh? Terus kenapa Ado malah nulis 'mi' jadi mirip 'yo' katakana?"
"Ehh... Soalnya kalo tulisnya langsung sat-set sat-set gitu kan gampang, yah...!"
Wah, betapa polosnya ucapan itu keluar dari bibir mungilnya.
Ado Fujisaki, putri kecil mereka dengan semangat yang membara itu kembali memaparkan ocehannya. Kilau hatinya seolah berpadu dengan Mafumafu, meski penampilannya turun sepenuhnya dari ibundanya–termasuk tanda lahir di bawah matanya. Meski begitu, rambut Ado justru lurus seperti si albino.
Benar juga. Kalau tidak salah, pria albino itulah yang memutuskan nama ini kepada buah hatinya saat dirinya masih dibalut selimut bak kepompong, dengan sang kekasih yang masih terbaring lemah di sebelahnya. Wajah mungil yang mekar dari kepompong itu menyinari keduanya dengan harapan baru, bahkan tetesan air mata lolos dari kedua mata mereka begitu mata safir si kecil itu pertama kali melihat dunia di dalam kamar rumah sakit.
Kini memandang si kecil yang tumbuh besar, Mafumafu memberikan senyuman hangatnya sembari tangannya membelai singkat pucuk raven Ado. "Tapi nggak apa-apa, Ado udah hebat kok. High five -nya mana?"
Seolah mengerti akan kode rahasia mereka, gadis kecil itu berubah sumringah. Tangan mungil Ado segera menyambut telapak tangan ayahnya dengan tepukan kecil. "High five!"
"Benar juga, bunda di jam segini masih tidur. Ado mau main perosotan dulu, nggak?"
Si kecil bersurai raven tampak termenung sejenak, diikuti suara dengungan panjang serta pose seolah ia sedang berpikir. Tak butuh waktu lama untuk ia mendapatkan respon dari sang gadis. "Oh, ya! Ayo!!"
Bangkit dari posisi jongkoknya, Mafumafu lekas berdiri tegak, menautkan tangan kanannya pada sang putri di sebelahnya. Langkah gadis itu tampak menggebu-gebu begitu bayangan akan taman bermain terlukis di benaknya. Diiringi lagu Hatsune Miku "World is Mine" favoritnya, Ado sesekali melompat kecil dalam setiap irama lagu.
Oh, lihatlah. Nampaknya putri kesayangan mereka turut mewariskan bakat orangtuanya juga rupanya.
Langkah kaki keduanya seirama kala perlahan melewati garis trotoar. Raga mereka seolah menghafal kuat lokasi taman yang sering dikunjungi selepas lelahnya belajar.
Begitu sang gadis menangkap siluet perosotan yang kian mendekat, genggaman tangannya terlepas begitu langkahnya memacu hebat menuju surga kecilnya, "Ayahh!! Jalan yang cepat, dong!"
"Hei, hati-hati melangkahnya! Ya ampun... "
Jujur saja, Mafumafu sudah cukup bosan melihat taman itu setiap minggu. Fasilitasnya memang banyak, tapi rutinitas yang sama terus-menerus justru membuatnya jenuh. Sampai sekarang pria itu tak mengerti mengapa Ado selalu terlihat begitu riang ke sana.
Tiba di taman, tahu-tahu ia sudah menemukan putrinya asyik berayun-berayun di atas ayunan, berdiri dengan kedua tangan menggenggam erat tali dan membiarkan gelombang angin meniup tubuhnya. Hanya sedikit anak-anak di sana, dan justru itulah yang membuat senyuman Ado lebih merekah—terlebih karena ia tidak perlu berebut ayunan dengan yang lain.
Berkat hasil pengamatan 4 tahunnya sejak Ado menempuh TK, Mafumafu dapat menyimpulkan bahwa Ado tak begitu pandai bergaul. Terkadang, beberapa kali ia juga melihat Ado sering rebutan dengan anak-anak lain. Momen yang melelahkan sampai-sampai ia harus turun tangan untuk melerai mereka.
Duh, kalau saja Soraru ada di sana mungkin situasinya akan jadi lebih mudah. Terlebih istrinya jauh lebih mahir soal menghadapi anak-anak.
Dan kalau boleh jujur, Mafumafu sendiri juga cukup persis dengan Ado. Sisi cemas dan pendiamnya terkadang menghalanginya berkomunikasi dengan staff di tempat kerja. Itu baru soal kerjaan, bagaimana kalau nanti berteman dengan orang baru?
Dan entah keberuntungan apa yang menimpanya, di saat itulah Soraru hadir di hidupnya. Senior yang tenang dengan paras seindah langit, bahkan dengan setia membimbing hingga keduanya akhirnya terpaut dalam janji pernikahan. Cincin yang seolah menjadi benang takdir mereka bahwa selamanya, mereka menempuh lika-liku kehidupan hingga akhir menanti. Dari setiap orang yang pernah menyukainya, pria surai raven itu tetap memilih Mafumafu sebagai suaminya.
2 tahun tinggal bersama dengan rumah hasil jerit payah mereka, cahaya kembali datang begitu Ado hadir di hidup mereka. Pertama kali memiliki anak memang sebuah cobaan yang berat, dan faktanya mereka masih bertahan hingga sejauh ini. Bersama-sama, menjalani hari bertiga dan membuat kenangan baru seiring waktu berjalan.
Mafumafu masih merasa si surai raven panjang di hadapannya ini dulunya selalu meminta Soraru untuk menemaninya karena takut sendirian di kamar. Bahkan sampai tertidur pulas di dekapan ibundanya yang lembut menuturkan lagu tidur dan mencium keningnya. Bahkan, Mafumafu juga beberapa kali menemukan istrinya ikut tertidur bersama sang putri di sana. Ah, indah sekali surga kecilnya itu sampai-sampai matanya hampir digenangi air mata.
Waktu cepat berjalan, dan tahu-tahu tinggi Ado sudah mencapai perutnya. Sekolah dan kantor adalah tempat yang menyibukkan ketiganya, perlahan-lahan merenggut waktu mereka bersama. Tapi hei, baik Mafumafu dan Soraru, mereka berusaha mungkin tetap hadir di sisi Ado sebagai orang tua yang semestinya.
Benar juga, kenapa ia sekarang mendadak melamun tentang hidupnya sampai sejauh ini?
"Ayah kok diam terus sekarang?"
"Ah," suara Ado menariknya kembali ke realita. Putrinya tahu-tahu sudah berada di hadapannya, sepertinya tengah mengamati perubahan raut wajahnya, "dari tadi ayah nggak dengar pas aku manggil..."
"Eh, maaf ya. Ayah lagi capek banget soalnya..." Kekehan kecil refleks keluar dari bibir Mafumafu untuk menurunkan kekhawatiran sang anak.
Namun tampaknya, respon yang dilontarkan sang gadis raven menunjukkan bahwa ia mengerti apa yang melanda benak sang ayahanda, "... Ayah lagi khawatir sama bunda, kan?"
Mafumafu terbelalak, "eh?? Kenapa tiba-tiba—"
"Soalnya kata tante yang jagain bunda kan, bunda masih harus di situ baru bisa pulang... "
Terdengar nada sedih yang keluar dari mulut Ado setelahnya, menundukkan kepalanya hingga kontak mata mereka terputus, "kok bunda lama banget pulangnya, yah...? Kapan bunda masak bekal lagi?"
Ah, nampaknya sang putri juga ikut terbawa suasana olehnya.
Segera, Mafumafu berupaya mencairkan suasana dengan menepuk lembut pucuk raven sang putri, "udah, Ado jangan khawatir. Bunda itu orangnya kuat, loh. Nanti bunda sedih kalau liat Ado begini. Habis ini, kita bakal melihat bunda, ya?"
Setidaknya, Mafumafu dapat melihat setitik binar dari kedua manik safir bunga hatinya. "Kapan? Sekarang??"
"Eh udahan mainnya, nih?" Mafumafu sekilas terheran, namun semangat kecil yang membara dari kedua manik safir itu kini mematangkan pilihannya, "baiklah, ayo. Tapi hari ini kita nggak nginap di sana, ya."
"Ehhh?!! Kan besok libur...!!"
"Terus nanti siapa yang bakal temanin ayah di rumah? Kasihan dong bunda kan harus banyak istirahat biar sembuh."
"Huuu...! Kan ayah udah besar, masa aku harus nemenin ayah kerja di rumah terus?"
"Iya-iya..."
Dengan tangan yang kembali terpaut, sang ayah dan putrinya melanjutkan kembali perjalanan mereka menempuh tempat yang lebih jauh. Mentari yang tenggelam membentuk garis panjang pada bayangan mereka, mengekori setiap langkah.
"Ayah nggak beli apa-apa buat bunda?" Ado kembali mengangkat suara.
"Ama-chan tadi udah bantu nganterin cheesecake ke bunda pas ayah lagi jemput Ado, nanti kita makan sama-sama, ya."
"Om Amatsuki yang sering datang main ke rumah itu?"
"Iya, dia udah izin pergi duluan sebelum ayah, jadi ayah sekalian minta tolong anterin kue di toko kue favorit bunda."
Beragam percakapan terus tersampaikan untuk menyingkirkan cemas yang sempat menyelimuti benak sang pria albino. Penat seolah hanyalah angin berlalu meski sekian kilometer telah mereka tempuh. Dan entah mengapa, kaki mereka cepat sekali beradaptasi dengan rutinitas baru ini.
Perlahan, bangunan serba putih muncul dari pandangan—tampak membesar kala berjalan mendekat. Papan ukiran "Rumah Sakit Pusat Tokyo" terpampang dalam tulisan kanji dengan informasi tambahan di bawah yang menunjukkan berbagai arah menuju fasilitas bangunan tersebut. Lahan parkir yang luas seolah membimbing mereka menuju lobi dengan pintu kaca otomatis yang menyambut kedatangan mereka.
Di dalam lobi rumah sakit, wangi semerbak sakura memenuhi ruangan yang dipenuhi dengan segelintir pasien dan staff yang berpencar di sekitar. Mafumafu yang cepat mengenali denah bangunan itu membimbing Ado ke elevator dan menekan tombol nomor 7, mengantarkan keduanya pada kamar pasien yang membentang di sepanjang koridor begitu pintu elevator terbuka.
Setelah berbelok sekali, keduanya tiba di depan kamar 7022 dengan papan nama di sebelah pintu bertuliskan nama sang ibunda, Fujisaki Soraru.
Mafumafu tampak termenung sejenak, lalu dalam-dalam menghembuskan nafasnya kala tangannya memutar gagang pintu tersebut, menyambut mereka pada sebuah ruangan yang cukup luas. Di sebelah kiri, terdapat kamar mandi yang dilengkapi dengan pegangan besi sebagai sandaran. Begitu melihat ke sebelah kanan, terdapat seorang pria berambut raven yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan buku gambar di pangkuannya. Begitu tatapan mereka bertemu, senyuman halus terlukis di wajah tembamnya.
"Oh, kalian datang lagi ya hari ini," nada suaranya lembut menyapa, dengan bariton dalam khasnya, "maaf ya, aku lagi nggak selera makan sekarang..."
"Bunda...!!" dengan girang Ado menghampiri, tangannya kembali membentang bak membentuk sayap seorang malaikat kecil menuju pelukan hangat pelindungnya, "aku bisa menjawab ujian bahasa Jepang tadi karena bunda ajarin...!"
"Wah, Ado hebat, ya...! Tuh kan, kalau mau berusaha juga pasti bisa kok," tangan putih nan halus Soraru mengusap pucuk raven sang putri yang persis dengan warna rambutnya, seolah ia sedang bertemu dengan dirinya di masa lalu dalam perawakan seorang gadis kecil, "jadi tadi Ado ngapain aja sama ayah?"
"Eummm, main-main kayak biasa. Tapi ayah sekarang diam terus, bun! Jadi nggak seru! Bunda kapan ikut nemanin lagi??"
Sekilas, terdengar keraguan dari nada bicara Soraru, "ehhh, kalau nanti bunda udah dibolehin pulang, ya..."
Kali ini, pandangan sang raven tertuju pada suami albinonya yang sedari tadi hening menatap selang infus yang terhubung pada punggung tangan istrinya. Soraru mengerti bahwa belahan jiwanya masih terluka untuk menerima fakta yang melanda dirinya, "hei, jangan melamun begitu. Apa kau tidak ada sesuatu yang ingin disampaikan?"
Suara lembut itu memang menariknya kembali dari lamunan, namun ia tak mampu mengukir satu-dua kata untuk membalas kalimat sang kekasih, hanya kata-kata acak diikuti dengan nada yang sedikit terbata-bata, "o-oh, anu... Hasil operasi Soraru-san waktu itu..."
"Aku tahu," Soraru membalas singkat, pandangannya teralihkan pada jendela dengan pantulan langit yang menggelap sementara tangannya setia mengusap-usap kepala Ado yang merebahkan kepala di pangkuan sang ibunda, "setidaknya, luka ini terbayarkan saat katanya pengendara itu akhirnya diadili."
"Syukurlah, ya..."
Pada akhirnya, Mafumafu tetap tak berani membalas tatapan lembut safir itu yang berusaha menenangkan badai pikirannya. Senyuman itu seolah dipaksa untuk menutupi seluruh kesedihannya sejak hari kemarin. Sosok senior yang lama ia kenal memang cenderung memaksakan dirinya untuk tampil tangguh di hadapan banyak orang. Isi hatinya hanya akan tumpah kala ego akhirnya mengizinkan untuk merintikkan genangan air dari matanya.
Mafumafu merasa bahwa ia masih dirinya di 3 hari yang lalu kala ia baru selesai menemani istrinya membeli kue di toko langganan kala istirahat kantor tiba seperti biasa. Di tengah kesibukan dunia itulah, malapetaka datang melanda.
Sebuah Toyota Corolla merah melaju tak terkendali sepanjang jalan. Puncaknya terjadi kala sang pengendara tiba-tiba memutar stir mobil dengan cepat hingga menerjang menuju trotoar. Dalam hitungan detik, kecelakaan tragis tak terhindarkan dengan bagian depan mobil yang menghantam beberapa pejalan kaki hingga terpental puluhan meter dari tempat mereka berdiri.
Tubuh-tubuh yang terkapar seketika memenuhi lokasi kejadian, menodai bebatuan trotoar dengan genangan darah. Seluruh saksi mata sontak membisu berusaha mencerna tragedi yang terpampang di hadapan mata. Begitu teriakan nyaring seorang wanita melambung tinggi di udara, daya ledak kembali bekerja dengan orang-orang yang turut berhamburan mendekati lokasi.
Di antara huru-hara, Mafumafu berdiri membeku dengan sepasang manik crimson nya yang terbelalak lebar. Hanya dalam sekedip mata, mimpi buruk seketika berubah menjadi kenyataan. Di samping kotak kue yang hancur dihiasi bercak merah, Soraru terkulai lemah dihimpit oleh mobil dengan darah menggenangi sekujur tubuh pucatnya. Binar safir yang semula bersinar kini terpejam begitu darah mengucur menodai keindahan di wajahnya. Seluruh momen yang berbahagia itu luntur dalam satu tragedi.
Mafumafu merasa lemah. Sungguh, kedua tangan yang seharusnya melindungi raga sang istri itu malah tak berfungsi di saat genting. Ia bisa saja segera menarik lengannya, namun mengapa tubuhnya tak berpihak padanya?
Umpatan dan lara berpadu menjadi gumpalan yang melanda hatinya. Kala tubuh kekasihnya itu dibawa menuju ruang operasi, pria albino itu seketika meraung-raung dalam kepedihan. Jemarinya menjambak hebat surai putihnya, tangisnya pilu tak kuasa membendung pilu. Bahkan kala matanya membengkak menyerupai warna irisnya, isaknya tetap bergema hingga tenggorokannya serak.
Berjam-jam, pria albino itu terduduk lemas di bangku hadapan ruang operasi. Beberapa teman baiknya seperti Amatsuki, Tomohisa, Sakata, dan Eve sempat datang menghibur laranya. Bahkan dengan senang hati mereka bergantian menjaga Ado kala dirinya tak berdaya. Ah, semakin deras air mata yang mengucur dari mata Mafumafu menyadari bahwa teman baik seperti mereka ada di sisinya.
Meski begitu, beberapa kali Mafumafu dengan lirih merapalkan doa, berharap Tuhan dengan belas Kasih-Nya memberikannya kesempatan kedua untuk kembali melihat sepasang manik safir itu lagi. Berharap bahwasanya Sang Takdir mempertemukannya kembali dengan orang tersayangnya. Berharap, bahwa Soraru akan kembali membuka mata di keesokan harinya.
Untungnya, Tuhan masih berpihak padanya. Takdir baik datang melalui kabar operasi yang berjalan lancar oleh seorang dokter yang keluar dari ruang operasi. Sungguh, saking bahagianya, Mafumafu langsung tersungkur saking tak kuatnya menopang beban pada pada kedua kakinya.
Namun, semesta memiliki cara untuk membayar ganti atas keajaiban itu dengan sebuah petaka.
"Hanya saja, kerusakan pada bagian tulang belakang sudah dalam tahap yang begitu fatal. Benturan keras akibat kecelakaan menyebabkan kerusakan permanen pada saraf sumsum tulang, sehingga sangat kecil kemungkinan untuk pulih sepenuhnya. Dengan berat hati, kami sampaikan bahwa pasien mengalami..."
"...Kelumpuhan total."
Dua kata berat yang mengakhiri kalimat Soraru, menyampaikan kembali berita buruk dari dokter yang terlibat dalam operasi. Sesaat setelah itu, air mata yang tak terhindarkan mengalir deras di pipinya. Tubuhnya terhuyung ke dalam pelukan sang suami, kepalanya bersandar lemas pada dada bidangnya dengan kedua lengannya yang melingkari punggung sang albino. Untuk kali ini saja, biarlah Soraru menunjukkan sisi rapuhnya pada satu-satunya pria pendamping hidupnya.
Mafumafu tak begitu banyak bicara—entah karena ia terlampau syok dengan kabar itu atau terlalu berempati dengan kondisi istrinya. Wajar saja jika Soraru kecewa, lantaran separuh hidupnya akan didampingi oleh kursi roda yang menggantikan langkahnya. Kalimat penenang bukanlah solusi yang tepat untuk menghibur lara saat ini.
Pada akhirnya, pria albino itu hanya mengusap lembut surai raven Soraru, wajah pucatnya ia benamkan di pundak istrinya yang bergemetar diiringi isak tangis dari bibirnya. Membiarkan malam sepenuhnya menyapu kepedihan yang menusuk kedua hati itu.
Mirisnya, sampai saat ini keduanya tak mampu menceritakan perkara sebenarnya pada putri mereka sendiri.
"Jadi... Kue cheesecake bunda mana?"
Dengan kalimat polosnya, Ado berusaha meraih atensi dengan mendekatkan wajahnya pada sang ibunda, yang berhasil meraih atensi sang pria raven, "oh, iya. Amatsuki meletaknya tadi di meja itu. Bunda belum sempat makan, jadi Ado makan duluan, ya."
"Ehh beneran...?! Minta ya, bun!" Tanpa menyiakan banyak waktu, si kecil bergegas mencari kotak kue yang terlukis dalam angannya. Kini, atmosfer sudut ruangan itu terbentuk khusus untuk dua orang dewasa dengan topik yang lebih dalam.
"Apa sudah saatnya kita beritahu Ado, ya?" Soraru kembali mengundang suasana tegang yang sempat luntur, masih dengan manik safir itu menatap wajah suaminya, "kalau bundanya sudah tidak bisa menemaninya ke taman lagi."
Sang lawan bicara menarik nafasnya lebih dalam dari biasanya, "apa Soraru-san tidak masalah begitu? Kau tidak ingin mmenghancurkan suasana hatinya, kan?"
"Benar..." hanya ucapan lirih yang menjadi respon, "dia juga pasti tidak mau melihatku dengan kursi roda, kan?"
"Tolong jangan bilang seperti itu."
Apalah dayanya. Mafumafu yang merasa dirinya pengecut tak mampu menuturkan sepatah kata untuk menyenangkan hati istrinya. Hanya frustasi yang menggerogoti hatinya lewat setiap kata yang diucapkan sang raven.
"Ah, bukan saatnya untuk bersedih, ya?" Bahkan tanpa perlu bersuara pun, respon Soraru seolah ia mengerti isi benak suaminya. Perhatiannya teralihkan pada buku gambar di pangkuannya, terutama di halaman yang dipenuhi kanji dan hiragana dengan gaya tulisan dirinya dan Ado, "benar... setidaknya saat ini aku masih bisa melihat kalian lagi."
Kembali menatap pada Mafumafu, bibir Soraru melukis senyuman hangat kala kedua telapaknya menyentuh pipi basah sang suami, dengan lembutnya menarik wajah rupawan itu ke dalam pelukan, "jadi tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja."
Seolah mengulangi sendu di hari kemarin, kini Soraru yang menjadi tempat sandaran bagi si albino yang membenamkan wajahnya pada bahu sang kekasih. Meski baju pasiennya terbasuhi air mata pun, jemari Soraru tetap setia mengelus-elus surai putihnya.
Si kecil Ado yang datang menghampiri tak mengerti situasi apa yang baru saja ia lewati, namun ia cukup pintar untuk memahami perasaan yang melanda sang ayahanda di pelukan ibundanya. Cukup dengan satu pelukan kecil saja, gadis itu merapatkan tubuhnya pada punggung sang ayah, menyalurkan kasih sayang sebagai bentuk kepeduliannya.
Di bawah ruangan serba-putih itu, satu keluarga kecil membentuk kembali kehangatan yang saling menautkan hati mereka.
Setidaknya, memastikan bahwa sekuat apa pun badai menghadang mereka akan menemukan kembali rumah.
---------------
Took 5 months to finally finished it, now I forgot the vibes I used to write here
Sialan lah.
-April 2026
Komentar
Posting Komentar